Selasa, 30 September 2014

TRADISI SILATURAHMI BERSAMA KOLAK AYAM

          Kolak ayam yang berasal dari desa Gumeno kecamatan Manayar kabupaten Gresik, kolak ini berbeda dengan yang lain yang biasanya terdapat pisang, kacang hijau, dan labu. Namun, kolak ini terbuat dari santan kelapa, jinten, gula merah, dan bawang daun. Yang unik dari kolak ayam ini adalah yang membuat harus laki-laki. Selama lima abad kolak ayam ini dijadikan sebagai obat. Tidak hanya orang desa gumeno, orang yang berasal dari luar kota juga ingin mencicipi kolak ayam ini.
          Tradisi kolak ayam sekaligus menjadi warisan budaya Nusantara. Kolak ayam yang telah ada semenjak 488 tahun yang lalu membuat warga semakin antusias untuk memperkenalkan budaya mereka ke masyarakat luas. Tradisi itu dimanfaatkan warga untuk merekatkan kebersamaan, khususnya pada saat berbuka puasa pada hari ke-22 atau malam 23 setiap bulan Ramadhan. Sambil menunggu adzan maghrib, sebungkus kolak ayam, ketan dan kurma dibagikan di pintu masuk masjid desa Gumeno dan masyarakat sabar untuk menunggu.
          Menurut salah satu tokoh desa Gumeno, Nadhim Umuri, menuturkan, awal mula pembuatan kolak ayam, berasal dari Sunan Dalem yang bertempat tinggal di desa Gumeno. Pada saat itu Sunan Dalem sakit, dan masyarakat sudah kesana kemari mencari obat,  dan sunan dalem tidak kunjung sembuh. Pada akhirnya Sunan  Dalem memperoleh petunjuk dari Allah SWT agar membuat masakan obat.
          Esok harinya Sunan Dalem membawa seekor ayam jago, dan penduduk langsung memasaknya dengaan santan kelapa, jinten, gula merah dan bawang daun. Setelah masakannya jadi, Sunan Dalem meminta warga untuk membawa nasi dan ketan yang telah masak. Saat itu waktu puasa dan ketika tiba waktu maghrib, semua penduduk berbuka bersama di masjid. Sunan Dalem pun sembuh setelah makan kolak ayam.
          Pada waktu penduduk Gumeno bergotong royong untuk membuat kolam, Sultan Dalem memerintahkan warga untuk membuat kolak ayam sebagai pengganjal perut. Dan pada saat itu daging ayam sangat sedikkit, sehingga Sultan Dalem memerintahkan agar ayamnya disuwir-suwir. Itulah yang menyebabkan kolak ayam dibuat dalam bentuk disuwir.

          Kolak ayam berasal dari kata “Kholaqul ayyam” yang berarti “mencafri berhari-hari”. Proses memasak kolak ayam pertama kali dilaksanakan pada tanggal 22 Ramadhan 946 Hijriah. Pada masa itu, Sunan Dalem juga berwasiat kepada penduduk agar setiap malam ramadhan ke-23 disiapkan kolak ayam. Kolak ayam tidak hanya sekedar obat, melainkan juga sarana untuk mempererat silahturahim, dan mengukuhkan kebersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar